31 July 2011


Tak terasa, tahun 2011 ini sudah memasuki Bulan Suci Ramadhan. Padahal, rasanya baru kemarin kita pergi ke masjid untuk sholat Idul Fitri, merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, kemudian bersalaman saling memaafkan. Ah, waktu memang cepat sekali berlalu.

“Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Melainkan yang beriman dan beramal sholeh.”

Sungguh kita akan menjadi manusia yang merugi jika tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Ngomong-ngomong, apa kalian memiliki harapan untuk Ramadhan kali ini. Berharap menjadi lebih baik? Pasti. Jangan sampai Ramadhan kali ini lebih buruk dari Ramadhan yang lalu.

Kalau saya, berharap Ramadhan kali ini (pastinya) lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya, puasa yang dijalankan lebih lancar lagi, dihindarkan dari banyak godaan puasa, tidak banyak meninmbun hutang puasa, dan yang pasti semoga puasa Ramadhan dan ibadah lainnya yang dijalankan di Bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah SWT. Amin amin ya rabbalalamin. Eh iya, semoga kali ini saya yang mendapatkan Lailatul Qadar. Aminnnnnnnnnnnnnnn.

Tidak hanya baju baru atau sepatu baru, tapi semoga kita juga menjadi benar-benar baru dan kita mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya.


Halah, terlalu banyak basa-basi. Hehe

Saya mau mengucapkan, Marhaban Ya Ramadhan. Semoga puasa kita lancar ya….

Happy Fasting, everyone!!!

25 July 2011


Lihatlah! Malam ini aku datang ke perayaan terindah milikmu. Kau terlihat begitu cantik dengan kebaya putih yang membungkus tubuh mungilmu. Dari jauh, dari singgasana itu, kau tersenyum padaku. Kau nampak bahagia. Kau tau? aku juga bahagia atas bahagiamu. Seperti kataku dulu, kita tak akan bisa bersatu. Seperti halnya sebatang rokok dengan sebotol yogurt. Jauh berbeda. Aku senang kau patuh pada orangtuamu. Kalian pasangan serasi dengan derajat yang sama. Tidak sepertiku.

“Selamat ya!” kataku seraya tersenyum menjabat tanganmu.


*dari sudut lain…


Lihatlah! Malam ini kau datang dengan langkah ringan ke perhelatan yang tak pernah aku inginkan. Kau terlihat begitu tenang dengan jas hitam melapisi kemeja putih yang kau kenakan. Dari jauh, di antara para tamu, kau tersenyum padaku. Kau nampak bahagia atas takdirku. Taukah kau? aku tidak begitu. Kini teori sebatang rokok dan sebotol yogurt milikmu menyata. Tapi harusnya kau tahu, bukan kekayaan yang kuinginkan, tapi kenyamanan. Seperti dirimu ketika di sampingku.

“Terimakasih!” jawabku sedih menerima ucapan selamat darimu.




*Mengalun sebuah lagu:

“Sesungguhnya hatiku ingin menahanmu”
“Kamu jangan pergi, kamu jangan pergi”
“Sesungguhnya jiwaku bisa gila jika hidup tanpamu”
“Aku terlalu mencintaimu”

(Project Pop – Bohong)

23 July 2011


Malam ini, aku merasa amat merindukan sesuatu. Sesuatu yang sudah lama tidak lagi berdekatan denganku, apalagi bercengkraman. Sesuatu yang jika bersama, akan selalu menimbulkan sebuah kehangatan abadi. Kehangatan yang tak pernah bisa disaingi oleh apapun, kehangatan dari canda tawa, dari wajah-wajah serius, dari derai tangis airmata, dari luapan rasa marah, dan dari wajah-wajah jenuh. Aku rindu. Sesuatu yang kini jauh, hilang, dan selalu kurindukan.

Sesuatu itu terdiri dari mereka. Mereka yang aku sayangi, yang aku cintai, dan yang aku rindui. Mereka yang selalu belajar, selalu peduli, selalu berani, dan selalu berSEMANGAT.

Mereka berada di sebuah tempat yang terbuat dari empat papan berbentuk segi empat. Tidak terlalu lebar, namun nyaman. Tak ada pendingin ruangan, namun kebersamaan sebuah keluarga yang selalu membawa kesejukan. Kadang tak ada pengharum ruangan, namun bau kaos kaki dan sepatu basah sudah menjadi keseharian.

Dari satu pintu reyot, aku menemukan sebuah keluarga. Aku selalu menyebutnya keluarga kedua. Karena di sana aku selalu bisa bercanda, tertawa, dan menangis bersama mereka. Kami tidak berasal dari satu darah, namun kami selalu berusaha menjadi darah yang satu. Menjadi badan yang utuh. Karena ketika satu sisi disakiti, maka seluruhnya akan terasa sakit.

Layaknya lagu yang tengah aku dengarkan kini.

“Tak ada yang abadi. Jiwa yang lama segera pergi, dan siaplah para pengganti.”

Hanya  3,5 tahun, dan itu adalah waktu yang amat singkat untuk bersama mereka. Merasakan bisa berpelukan bahkan beradu jotos dengan mereka. Aku tau, waktu tak akan bisa kembali. Karena itu, malam ini aku membuka lagi album kenangan bersama anak-anak Gita Family, begitu sebutan.

Album yang tidak hanya berisi ketika kami bersenang-senang, namun juga ketika kami berpacu dengan dendam  dan arang. Sambil terus mendengarkan lagu “Tak Ada yang Abadi”. Bagaikan sebuah film dokumenter, kenangan dari awal aku mengenal dunia mahasiswa hingga akhirnya aku di wisuda dengan urut menampakkan scene-nya. Sekilas nampak wajah-wajah itu. Wajah-wajah syahdu yang selalu melingkar dalam kenangan-kenangan bernada rindu.

Mas Rosi, Agus, Momon, Aril, Woro, Lala, Ringgo, dan masih banyak lagi nama lainnya yang setia bersamayam di tiap jengkal langkahku.

Aku rindu kalian kini dan nanti.

“Hidup Pers Mahasiswa!!!!”