Pagi ini seperti biasa kubuka lapak kerja di bagian atas rumahku. Sepi. Hanya lima unit komputer dan meja-meja kayu yang selalu menyambutku bisu.
Aku masuk, mengedarkan seluruh pandangan ke tiap sudut ruang, dan berakhir pada sebuah laptop usang di atas meja kerjaku.
Laptop usang? Aku tertawa. Tak adil rasanya jika menyebutnya usang. Benda kotak hitam berukuran 14 inch dengan layar dan tuts-tuts nya yang menggoda. Harusnya kusebut dia, seksi.
Aku masuk, mengedarkan seluruh pandangan ke tiap sudut ruang, dan berakhir pada sebuah laptop usang di atas meja kerjaku.
Laptop usang? Aku tertawa. Tak adil rasanya jika menyebutnya usang. Benda kotak hitam berukuran 14 inch dengan layar dan tuts-tuts nya yang menggoda. Harusnya kusebut dia, seksi.




